Rabu, 05 Agustus 2015

CERUTAKU


Jika ada orang-orang yang sangat terikat dan mencintai kampung halaman atau tanah kelahirannya, salah-satu orang itu pastilah termasuk saya. Beo nara bagi saya tak sekedar ruang meja baca di mana saya menyendiri, menulis, dan membaca, atau sebuah "rumah" tempat saya tidur dan makan. Lebih dari itu, beo nara atau tanah kelahiran bagi saya adalah memori dan kenangan.
Beo nara atau tanah kelahiran saya menyatu dengan bathin saya, karena saya mengalami "kepedihan" dalam kesahajaan dan keterbatasan kami sebagai orang-orang nara yang terbatas. Sebagai manusia-manusia yang akrab dengan apa yang hanya diberikan oleh alam. Ketika itu, bila malam tiba, kami akan mulai menyalakan lampu-lampu kamar kami yang menggunakan bahan bakar minyak tanah atau minyak kelapa. jalan di depan rumah begitu sepi siang dan malam hari, lebih mirip terowongan gelap karena barisan pohon-pohon lebat yang tumbuh kokoh dan rimbun di tepi sungai dan sepanjang jalannya.
Kebetulan keluarga saya memiliki tanah yang cukup luas untuk menanam kopi, cengkeh, coklat atau tanaman apa saja yang dapat dijadikan komoditas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bila panen tiba, Mama saya (termasuk saya) akan menjajakannya alias menjualnya di pasar rekas , terkadang ada saja orang-orang yang datang sendiri ke rumah untuk membelinya.
Lama tak pulang ke beo nara membuat saya rindu suasana beo Nara . Entah kenapa hati saya tergerak untuk menuliskan cerita tentang beo nara di masa anak-anak. Menurut saya waktu paling terkesan tetap masa anak-anak di beo nara . Masa di mana saya menghabiskan waktu bersama alam, tanpa beban, tanpa "tanggung jawab" dan tanpa ini itu. Pokoknya mau apa saja terserah.
Beo nara memang beo yang sangat kecil dan unik, dan di atasnya beo ku ada nama Golo mbako dan di bawa beo ku ada juga namanya Golo cucu dan di sebelah kiri ada beo lokot dan sebelah kanannya jga ada beo ranggawatu , nama gunungnya si memang aneh tapi masyarakat nara ko nda aneh.
Seperti catatan saya berjudul Bernostalgia Dengan Masa Anak sebelumnya saya memiliki cerita yang hanya saya ingat. Tentang hidup saya di masa lalu di beo nara yang bisa dibilang tak seperti kebanyakan orang. Tentang kenangan dengan teman-teman, dengan tetangga, dengan alam pedesaan, dengan suasana beo nara , dan dengan semua yang pernah bersua dengan saya. Banyak kenangan yang tak terlupakan.
Semua cerita itu tinggal kenangan yang tak mungkin dapat terulang kembali.Semua orang pasti memiliki cerita masing-masing. Dan masing-masing cerita pasti berbeda, karena perjalanan hidup orang itu lain-lain. Adakalanya yang memilukan, bahagia bahkan ada yang membuat pikiran kita down ketika mengingat-ngingat kenangan yang menyedihkan. Yang pasti perjalanan hidup seseorang itu ada dua kemungkinan, bahagia atau sengsara, kaya atau miskin, disegani, atau dicaci, disukai atau dibenci, dan sebagainya. Tapi Anda pasti setuju jika saya menyebut perjalanan hidup orang-orang itu adalah perjalanan menuju muara, yakni kematian.
Berbicara kematian, pikiran saya seolah tak percaya. Orang-orang di beo nara yang dulu yang saya kenal, yang sering bersua, bahkan waktu kecil sering main dirumahnya telah meninggal beberapa tahun lalu. Bukan hanya satu orang namun dua orang sekaligus dalam satu hari. Saya tidak akan menyesali atau menangisi, karena bagi saya kematian adalah sebuah keniscayaan. Saya hanya tak menyangka ternyata umurnya tak sepanjang yang saya prediksikan.
Saya yang jarang pulang ke beo nara seolah merasakan perbedaan di beo nara . Mulai dari segi suasana beo nara , orang-orangnya sampai bangunan rumahnya. Saya tak menyangkal bahwa perubahan itu penting. Perubahan itu adalah sebuah keniscayaan dan termasuk dalam hukum alam, bahwa manusia itu mengalami perubahan dan perkembangan. Selama perubahan itu ke arah kemajuan dan perkembangan saya memaknainya dengan positif.
 Ada beberapa fenomena menarik di beo Nara saya akan saya utarakan di sini. Ini hasil diskusi saya tadi malam dengan seorang teman ketika ngopi di warkop desat .
Apa lagi sekarang Di seluruh Indonesia  lagi hiruk pikuknya pesta demokrasia termasuk di beo nara . Ada persiapan pemilihan kepala daerah (Bupati) Selain itu, tanpa menutup-nutupi dan ini sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap pesta demokrasi pasti tidak bisa dilepaskan dari adanya uang dan muda-mudahan tidak.
Ini sebenarnya masalah klasik terkait dengan tipe masyarakat di beo nara . Menurut pemaparan kawan saya itu masyarakat di  beo nara itu unik, sulit diatur, merasa semua pinter, gampang tersinggung, dan lain-lain. Memang belum pernah diadakan penelitian tentang tipe masyarakat di beo nara semua orang merasa sudah pinter sendiri.tetapi di sini saya tdk membahas tentang pesta demokrasi atau politi karna saya sendiri juga tidak suka berpolitik.
lanjutkan cerita tentang pengalaman hidup ku di beo nara   
Dalam kesendirian itu, sesekali saya suka sekali mengarahkan pandangan mata saya ke arah langit senja. Terhadap burung-burung yang beterbangan bersama hembus udara sore hari, udara yang juga mengerakkan pepohonan bambu di mana saya berada demi menjalankan perintah ibu dan ayah saya sebagai seorang anak. Dan bila saat panen tiba, saya pun akan membantu keluarga saya memotong batang-batang padi dengan alat pemotong yang mirip celurit kecil yang kami sebut sabit.

Dengan demikian, kehidupan masa anak dan masa remaja saya telah sedemikian akrab dengan langit dan sawah-sawah.
Tak hanya itu saja yang membuat saya tanpa sengaja begitu terikat dengan beo nara dan tanah kelahiran saya. Barangkali yang dapat dikatakan sebagai "kepedihan" pertama saya adalah ketika mama saya pergi meninggalkan kami semua.Singat saya, saya menangis di belakang rumah karena peristiwa tersebut pada tahun 2001. Mungkin kesedihan saya adalah karena ia adalah orang yang pertama yang begitu dekat dan akrab dengan saya, yang senantiasa bersama keluarga saya.

Dengan sedikit paparan itu, beo nara dan tanah kelahiran bagi saya adalah tempat di mana saya menyimpan sebuah cerita dan pengalaman "kepedihan" saya bersamanya. Ini adalah sebuah konteks dan tempat di mana memori dan kenangan saya berada dalam ketakhadirannya di waktu sekarang. Ini adalah sebuah bingkai dan kanvas yang belum digambar, yang hanya bisa saya rekonstruksi saat ini ketika saya mulai belajar untuk menarasikannya dalam sekian fiksi.

Ingatan dan kenangan itu memang tak ubahnya hanya upaya untuk "merekonstruksi" sebuah peristiwa dan konteks yang sebenarnya sudah tidak ada, namun jejak bathinnya masih senantiasa ada ketika saya berusaha merekonstruksinya demi sebuah fiksi. Singkat kata, beo nara adalah tanah kelahiranku, sebuah "historiografi personal" sekaligus sebuah fiksi yang membuat saya begitu terikat dengannya. Ini adalah latar dominan yang membentuk relung bathin saya karena di sanalah saya pernah mengalami "kepedihan" saya.

Demikian, dalam rekonstruksi atau cerita saya.
saya memori dan kenangan tentang beo nara atau tanah kelahiran saya, membathin dan menyatu dengan saya di saat-saat saya merenung dalam kesendirian di saat saya duduk di serimbun bambu tersebut.


Mohon maaf bila salah penempatan kata atau kalimat bagi teman-teman yang mebacanya untuk meberi komentar manah kata-katanya yang salah atau penempatan kalimatnya.shalommmmmm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar